Cerita Dari Himpunan Mahasiswa Yang Penuh Tawa


Di sebuah sore yang gerimis, tanaman di depan gedung teknik  Grafika dan penerbitan Politeknik Negeri Jakarta tampak basah, tapi percakapan di dalam ruang sekretariat Himpunan  tetap hangat. secangkir kopi di tangan abyan ketua himpunan tahun ini dan ada  cerita-cerita tentang bagaimana etika bukan hanya soal tata krama, tapi napas yang menjiwai setiap keputusan organisasi.

“Kadang kita lupa, yang kita urus bukan cuma proposal dan acara, tapi juga manusia,” ujar abyan, sambil memainkan kunci loker berlogo Himpunan.

Etika: Bukan Hanya Soal Tata Bahasa dalam Proposal

Himpunan bukan organisasi biasa, tapi Sebagai rumah bagi mahasiswa jurusan teknik grafika dan Penerbitan, estetika dan logika bersatu dalam naskah, layout, hingga perilaku anggotanya. Tapi jauh di balik naskah rapih dan desain yang memukau, tersimpan persoalan yang lebih mendalam tentang etika berorganisasi.

Menurut Akbar, divisi sosmaling, etika di Himpunan hidup dari hal-hal kecil. “Kita selalu berusaha hadir tepat waktu, menghargai pendapat yang berbeda, dan nggak memaksakan ide ke forum. Ini bukan cuma karena ‘sopan’, tapi karena kami tahu satu ketidaktertiban bisa bikin rusak suasana satu kepengurusan.”

Dalam praktiknya, etika ini juga berarti menghindari praktik toxic seperti senioritas “Dulu, sempat ada masa di mana yang baru dianggap nggak ngerti apa-apa. Sekarang kita ubah, semua bisa belajar bareng. Jabatan bukan kasta,” kata Akbar tambahnya sambil tersenyum.

Bukan berarti kehidupan di organisasi selalu tenang. Ada kalanya debat soal arah desain majalah berubah jadi pertarungan ego. “Lucunya, kita bisa ribut gara-gara pilihan font!” kata Rifki sambil  tertawa. Tapi, menurut mereka, di situlah etika diuji bisa nggak kita tetap menghargai orang walau idenya nggak kita setujui?

Kadang, etika juga muncul dalam bentuk yang lebih lembut mendengar ketika ada yang ingin bicara, atau sekadar menemani anggota yang sedang pusing menyelesaikan tanggung jawabnya. “Di Himpunan Kita keluarga Dan dalam keluarga, kadang etika adalah bentuk nya empati,” kata az zahra , mantan staf keuangan

Organisasi sebagai wadah dalam ber etika

Seorang almuni mereka pernah bilang, “Organisasi adalah miniatur dunia kerja.” Tapi bagi anggota Himpunan, organisasi adalah laboratorium etika: tempat mereka belajar mengelola konflik, menghormati proses, dan menjaga integritas. “Bahkan saat ngurus dana dan laporan pertanggung jawaban, kami diajarin untuk jujur dan transparan,” kata rendi.

Di balik lembar-lembar laporan dan layout digital, para anggota ini sedang membentuk karakter. Bukan karakter buatan, tapi karakter yang tumbuh dari kerja sama, kesalahan, dan perbaikan. Etika bukan hanya prinsip, tapi praktik harian yang kadang lucu, sering melelahkan, tapi selalu bermakna.

Mereka Bukan Malaikat, Tapi Belajar Jadi Manusia

Organisasi bukan tempat suci. Ada gesekan, ada salah paham, ada lelah yang tak tertolong. Tapi, justru di sana etika diuji. Bukan untuk sempurna, tapi untuk terus berusaha.

Himpunan mungkin tak selalu tampil di spotlight kampus. Tapi di balik layar, mereka terus bekerja, bukan hanya untuk menyusun program kerja, tapi untuk menulis narasi tentang bagaimana anak muda bisa saling menghormati, saling belajar, dan tumbuh  satu diskusi etis pada satu waktu.

Post a Comment

Previous Post Next Post