Jejak Pekerjaan Lama Alvi Maulana Terungkap

 

sumber: kompas.com

JAKARTA - Kasus Alvi Maulana (24) yang memutilasi kekasihnya, Tiara Angelina Saraswati (25), hingga menjadikannya ratusan potongan tubuh, tak hanya menimbulkan kecaman, tetapi juga pertanyaan mendalam tentang akar penyebab tragedi tersebut. Salah satu fakta paling mengejutkan yang terungkap adalah bahwa Alvi pernah bekerja sebagai tukang jagal hewan

Profesional dalam Kejahatan, Bukan Sekadar Kebetulan

Menurut keterangan Kapolres Mojokerto, profesi Alvi sebagai jagal hewan memberinya kecakapan mengenaskan untuk membelah dan memotong—yang kemudian digunakan pada tubuh kekasihnya. Ia melakukan mutilasi secara "sangat profesional" dengan pisau dapur, pisau daging, hingga gunting ranting, bahkan memecah tulangnya menjadi ratusan potongan

Profesionalisme tersebut membuat kekejian ini terasa bukan sebagai tindakan impulsif semata, melainkan dipicu oleh perasaan kesal yang menumpuk. Alvi mengaku dipicu oleh korban yang temperamental dan menuntut gaya hidup tinggi, serta friksi akibat hubungan tanpa ikatan pernikahan formal selama sekitar empat tahun

Dari Jagal Hewan ke Jagal ManusiaMenurut saya, fakta bahwa Alvi pernah bekerja menjadi tukang jagal menunjukkan bagaimana pelatihan fisik yang sejatinya bertujuan untuk pekerjaan halaldapat menjadi alat kejahatan bila dikombinasikan dengan kondisi emosional yang tidak stabil.

“itu bukan orang, tapi iblis yang berani membunuh pacarnya samapai seperti itu” ungkap sesorang yang komen di uanggan di media sosial

Ini adalah pengingat pahit betapa pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan lingkungan sosial seseorang. Seorang yang terbiasa “menangani kematian” demi pekerjaan, tanpa dukungan psikologis dan kontrol moral, rentan terjerembap ke dalam kekerasan ekstrem ketika emosi berubah menjadi api yang membara.

Perlu Edukasi dan Dukungan Sosial yang Lebih Kuat

Menurut pendapat saya, pemerintah dan masyarakat harus memperluas cakupan edukasi mengenai dampak psikologis dari pekerjaan yang penuh tekanan—khususnya yang berorientasi pada proses pemotongan, pembelahan, atau sejenisnya. Jangan hanya fokus pada aspek kriminalitas; kita juga perlu menggali akar psikologis yang bisa memicu tindakan sadis.

Selain itu, hubungan tanpa status pernikahan formal sering menjadi stigma dalam masyarakat konservatif. Namun di saat yang sama, hubungan informal seperti itu rentan menyimpan konflik mendalam yang tidak terselesaikan. Bila terjadi dominasi emosional, tanpa mekanisme mediasi, gesekan kecil bisa berkembang menjadi tragedi besar.

Post a Comment

Previous Post Next Post