Percaya, Tuhan Pasti Bantu



Kos saya sempit. Cuma cukup buat kasur tipis, rak buku, dan jemuran baju yang seringkali berdiri lebih tegak dari semangat saya sendiri. Di kamar kos inilah saya belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah: bagaimana rasanya lapar yang menggigit pelan-pelan, bagaimana menunggu subuh hanya untuk merasa ditemani oleh sepi, dan bagaimana tetap bisa berkata alhamdulillah meski isi perut hanya angin dan harapan.

Saya seorang mahasiswa, pria biasa dari keluarga sederhana, yang merantau dengan doa ibu dan sisa uang kiriman yang sering datang tak tentu. Masa-masa kuliah bukan cuma soal tugas, seminar, dan skripsi. Bagi saya, itu juga masa-masa menyusun strategi bertahan hidup.

Ada malam-malam tertentu yang saya ingat sangat jelas. Bukan karena momen besarnya, tapi justru karena betapa sunyinya. Saya ingat malam itu, saya hanya menatap dinding, sambil menahan lapar yang semakin menjadi. Tidak ada lagi mie instan, tidak ada lagi beras di ember kecil. Bahkan karet gelang bekas mie pun sudah tak ada, seolah ikut menyerah bersama saya.

Saya buka dompet, kosong. Saya buka aplikasi dompet digital, saldo tinggal nol koma. Saya hanya bisa tertawa, tawa yang pahit karena air mata sudah terlalu sering keluar sebelumnya.

Pernah suatu hari, saya ke kampus dengan perut kosong sejak kemarin. Teman saya nawarin makan, saya tolak. Bukan karena sok mandiri, tapi karena gengsi. Laki-laki, katanya, harus tahan banting. Tapi siapa sangka, justru dari titik-titik kelaparan itulah saya tahu bahwa hidup ini tidak selamanya soal harga diri, kadang juga tentang bertahan dengan rendah hati.

Tuhan tidak pernah tidur. Di saat saya benar-benar tak punya apa-apa, datang saja rezeki tak terduga. Kadang dari teman kos yang ngasih sisa nasi goreng, kadang dari ibu warung depan yang bilang, “Bayar nanti aja, Nak.” Dan yang paling saya ingat, ada hari di mana saya nemu uang receh total Rp 3.500 di saku jaket lama. Cukup untuk beli lontong sayur bungkus kecil. Saya makan di pinggir jalan, pelan-pelan, seperti orang kaya yang menikmati hidangan mahal. Malam itu, saya kenyang. Malam itu, saya bahagia.

Saya tidak pernah menyangka, bahwa kelaparan bisa mengajarkan banyak hal. Ia mengajari saya untuk tunduk. Mengajari saya untuk percaya. Dan mengajari saya untuk tidak pernah merasa sendirian.

Dalam Islam, kita diajarkan bahwa Tuhan tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya. Mungkin inilah cara-Nya menempa saya. Mungkin ini bagian dari pendidikan hidup yang tak tercantum dalam kurikulum kampus.

Kelaparan mengajari saya ikhlas menerima yang tak bisa diubah. Bahwa tidak semua perjuangan harus terlihat gagah. Kadang bertahan hidup diam-diam saja sudah cukup mulia.

Saya masih tinggal di kos itu. Kipas angin masih bunyi berisik, plafon masih bocor sedikit kalau hujan. Tapi saya tidak lagi takut lapar. Bukan karena saya sudah kaya, tapi karena saya sudah belajar percaya. Percaya bahwa jika saya masih bisa bangun pagi, masih bisa menghirup udara dan menatap langit, maka Tuhan belum menyerah atas saya.


Post a Comment

Previous Post Next Post